MATAHARINEWS.com

Mewartakan dengan Terang Benderang

Jumat,18 April 2014

Update12:33:08 WIB

Anda berada di sini: Nusantara Sumatera Kelompok HKM Lampung Barat Manfaatkan Pembangkit Listrik Mikrohidro

Kelompok HKM Lampung Barat Manfaatkan Pembangkit Listrik Mikrohidro

  • PDF


Mataharinews.com, Lampung Barat  - Pembangkit listrik mikrohidro yang dibangun  Kelompok Hutan Kemasyarakatan (Hkm) Mardi Rukun di Pekon Sumpangsari, Kecamatan Sumberjaya, Kabupaten Lampung Barat, Lampung membawa beberapa manfaat sekaligus. Selain memberi penerangan, listrik mikrohido dapat menonton televisi dan menyerap informasi tentang kopi melalui telepon genggam (HP).

 

Semula Hkm berupaya melestarikan hutan dengan menanam pohon untuk mendukung pemanfaatan air sebagai sumber energi listrik mikrohidro yang dimanfaatkan warga setempat. Dengan dukungan hibah Rp25 juta sejak Juli, masyarakat melaksanakan Proyek Penguatan Pengelolaan Hutan dan Daerah Aliran Sungai Berbasis Masyarakat (Strengthening Community Based Forest and Watershed Management/SCBFWM), menurut Kamisan, Ketua Hkm Mardi Rukun, di Simpangsari Kecamatan Sumberjaya, Jumat (14/6).

Warga sepakat menggunakan bantuan untuk membangun pembangkit listrik mikrohidro, mengingat potensi aliran air di sungai tempat mereka dinilai cukup baik dan stabil, termasuk ketika kemarau.

Pembangkit listrik mikrohidro yang dibangun mengandalkan sumber air dari Sungai Cengkaan itu, ternyata mampu menghasilkan tenaga listrik 5.000 Watt untuk digunakan oleh 20 kepala keluarga (60 jiwa).  Setiap keluarga mendapatkan jatah daya listrik 18 Watt (tiga lampu) selama 24 jam. Masing-masing warga yang menggunakan pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTM) wajib membayar iuran setiap bulan Rp10.000. Bagi yang menyalakan televisi di rumahnya harus menambah Rp5.000 per bulan.

Sebelumnya, masyarakat masih menggunakan penerangan tradisional karena ketiadaan aliran listrik di kampung.

"Alhamdulillah sejak ada listrik mikrohidro itu, kini, warga di sini dapat diterangi setiap saat dan aktivitas kami menjadi lebih lancar dan produktif," ujar Sunyoto, bendahara kelompok ini.

Dampak kehadiran listrik mikrohidro bagi anak-anak warga setempat, kini, dapat lebih leluasa belajar di malam hari, termasuk mengaji tanpa gangguan penerangan listrik lagi.

Beberapa warga setempat juga semakin terbuka atas akses informasi melalui sarana komunikasi media televisi dan menggunakan telepon genggam (HP).

"Informasi perkembangan harga kopi bisa terus kami ketahui dengan dukungan peralatan komunikasi itu, terutama HP," kata Sunyoto lagi.

Kelompok HKm Mardi Rukun ini dibentuk pada 2007 beranggota 405 orang yang memiliki luas hamparan lahan yang dikelola kelompok ini mencapai 646,5 hektare, belum termasuk zona lindung seluas 60 hektare.

Areal pengelolaan kelompok HKm ini berada dalam kawasan lindung Register 44 Waytenong-Kenali.

Anggotanya selain berkebun kopi dan komoditas lain, juga mengembangkan ternak kambing, budidaya madu dan memelihara ikan.

Menurut Regional Facilitator SCBFWM BP-DAS Way Seputih Way Sekampung Lampung, Dr Zainal Abidin MS, mendampingi Syaiful Rahman (National Project Manager SCBFWM) dan staf UNDP (United Nations Development Programme) Indonesia Tommy Soetjipto, tujuan bantuan hibah kecil bagi sejumlah kelompok warga di Kabupaten Lampung Barat itu untuk mendorong penguatan ekonomi masyarakat setempat agar mendukung pelestarian hutan berbasis warga di daerah sasaran tersebut.

Sejumlah fokus program adalah mendorong ketersediaan sejumlah infrastruktur dasar, seperti air bersih dan listrik maupun pengembangan usaha ekonomi produktif kaum perempuan dan warga umumnya.

"Bila masyarakat secara langsung merasakan manfaat kondisi lingkungan yang terjaga sehingga air bersih selalu tersedia dan listrik mengalir ke kampung mereka, dipastikan masyarakat di sini akan terdorong memelihara dan melindungi lingkungan sekitarnya dengan baik," ujar Zainal.

Menurut Syaiful Rahman Program SCBFWM yang dilaksanakan Kementerian Kehutanan dan dibantu UNDP untuk mendorong penguatan kelestarian hutan berbasis masyarakat yang juga kuat secara ekonomi, dengan tujuan untuk mengurangi degradasi hutan dan lahan.

Tujuannya antara lain memperbaiki pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) dalam kondisi kritis, mendorong adanya dukungan lembaga pemerintah termasuk pemda, dan meningkatkan koordinasi antarunsur pemerintah agar mendukung kebijakan dan program yang konsisten menguatkan masyarakat berbasis kelestarian lingkungan dan pemberdayaan ekonominya.

"Pendekatan program ini adalah partisipatoris sejak perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasinya," ujar Syaiful lagi.

Zainal menambahkan bahwa sasaran Program SCBFWM di Lampung berada pada areal seluas 44.000 ha yang melibatkan 32 mitra tersebar pada lima kecamatan di Kabupaten Lampung Barat.

Sasarannya adalah warga yang mengelola hutan kemasyarakatan, kelompok wanita/gender (30 persen), agroekosistem kopi dan kelompok tani.

"Kami mendorong dan mendampingi warga untuk mengembangkan pengolahan hasil hutan bukan kayu, seperti madu, gula aren, kopi luwak, kopi kemasan dan berbagai produk ekonomis lainnya," ujar Zainal lagi.

Program ini juga mendorong adanya praktik budidaya kopi berwawasan lingkungan dan mendukung aksesibilitas warga atas sumber air bersih, mengingat masih banyak warga di Kabupaten Lampung Barat belum terjangkau pelayanan air bersih oleh perusahaan daerah air bersih (PDAM) di sini, dan masih banyak yang kebutuhan air bersih sehari-hari belum dapat terpenuhi dengan baik, kata Zainal Abidin lagi.(sh/ant)