MATAHARINEWS.com

Mewartakan dengan Terang Benderang

Senin,21 April 2014

Update05:03:56 WIB

Anda berada di sini: Entertainment Buku Aku sudah Membaca “Misteri Gajah Mada Islam” !!!

Aku sudah Membaca “Misteri Gajah Mada Islam” !!!

 


Oleh Fitri Merawati-aktifis LSBO Jogja.


Di saat awal kita mulai menulis-fiksi maupun non fiksi-mula-mula kita dihadapkan pada kemauan untuk bertanya dan keharusan untuk menjawab persoalan-persoalan yang menarik, padahal barang kali itu masalah sederhana yang biasa kita lihat dan hayati. Namun pertanyan apa pun, yang bahkan sederhana karena sudah populer di mata dan telinga, seyogyanya kita anggap perlu dijawab, sebab dengannya kita sedang belajar melatih diri untuk menjadi cerdas dan cendekia dalam masalah kebudayaan.

(Munsyi, 2012: 20)

Kutipan pernyataan yang diutarakan oleh Munsyi atau sering juga disebut Remy Sylado dalam sebuah bukunya yang berjudul Jadi Penulis? Siapa Takut! sepertinya telah menjelma dan merasuk dalam diri Viddy AD Daery. Sebagai seorang penyair Viddy hadir tidak hanya sekedar ikut meramaikan jagad sastra namun juga memberikan sumbangan yang berarti. Hal ini dapat dilihat melalui karya-karyanya yang mengambil genre bukan puisi, yaitu novel yang berusaha menguak sejarah (walaupun kita semua tahu bahwa novel merupakan karya fiksi yang mengandung unsur imaji di dalamnya sehingga tidak dapat dikatakan seratus prosen kebenarannya).

Viddy dalam sebuah wawancaa penah menyatakan bahwa sejak kecil dia sering bercengkerama dengan neneknya dan dari neneknya itulah Viddy mulai menyukai dunia seni, khususnya dongeng karena neneknya gemar menceritakan dongeng-dongeng kepadanya. Memori tentang dongeng-dongeng itu tidak bisa hilang dari ingatannya dan terus membekas sampai dia dewasa. Viddy merasa sangat beruntung memiliki seorang nenek yang gemar bercerita karena tanpa disadari cerita-cerita itu telah mengganggunya dan mengusik dirinya sehingga memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya harus mencari tahu jawabannya, bahkan muncul imajinasi-imajinasinya tentang dongeng yang diceritakan oleh neneknya itu. Hal in terbukti dengan diterbitkannya novel-novel Viddy, yaitu Sungai Bening (2002), Pendekar Sendang Drajat: Pesisir Utara Majapahit Di Abad ke-16 (2009), Pendekar Sendang Drajat: Memburu Negarakertagama (2011), Pendekar Sendang Drajat: Misteri Pengebom Candi Gajah Mada (2011), Sungai Bening Gita Cinta Universitas Airlangga (2011), dan Pendekar Sendang Drajat: Misteri Gajah Mada Islam (2013)yang berusaha menguak sejarah yang ada di Indonesia.

Novel pertamanya yang berjudul Sungai Bening mengisahkan tentang sejarah sosial-politik di Indonesia yang kemudian dikemas dalam nuansa romansa mahasiswa dengan balutan nilai-nilai Islam. Novel ini bercerita tentang bagaimana sikap mahasiswa ketika mereka berhadapan dengan sebuah rezim pada tahun 80-an sebagai sebuah masalah sosial dan sekaligus berhadapan dengan sebuah masalah personal.

Novelnya yang bergenre lain yaitu empat jilid yang merupakan novel seri dari Pendekar Sendang Drajat , bercerita tentang sejarah kerajaan besar, yaitu Majapahit pada zaman menjelang kehancurannya. Viddy memiliki sudut pandang yang berbeda dari pengarang-pengarang lain yang juga bercerita tentang Majapahit. Dia lebih memilih untuk melihat sisi lain yang mungkin dianggap minor atau kurang menarik oleh pengarang lain. Sisi yang dianggap minor ini diungkap Viddy dengan baik sehingga menghasilkan cerita yang membuka wawasan bahwa ternyata dalam sebuah kejayaan suatu kerajaan (untuk saat ini bisa juga dikatakan negara) ada keterlibatan pihak-pihak yang “kecil” sehingga keberadaaannya tidak diperhitungkan namun memiliki pengaruh yang besar.

Dalam novel seri tersebut Viddy juga mengemasnya dalam suasan Islami. Kekhasan inilah yang menjadi daya tarik dalam novel Viddy karena dia mampu mengolah dengan baik antara tradisi kerajaan yang masih terpengaruh ajaran agama Hindu dan sedikit demi sedikit kemudian dipengaruhi Islam. Tokoh yang mendapat julukan Pendekar Sendang Drajat ini tidak hanya hadir sebagai tokoh , tetapi juga menjadi guide (pemandu) bagi wisatawan (pembaca) sehingga situs-situs dan cerita-cerita sejarah dapat terungkap melaui tokoh tersebut.

Pembaca yang semula mungkin hanya ingin mengikuti alur cerita, ternyata juga mendapatkan suguhan hal-hal baru yang belum pernah didengar sebelumnya, seperti nama-nama tempat, nama-nama pendekar yang terlibat dan juga tentang ajaran Islam.Ajaibnya, semua mengalir tanpa terasa. Semua terasa menyatu dalam jalinan cerita yang memikat.

Viddy seolah-olah menjelma dalam novel-novelnya. Dia tidak hanya menjadi narator tetapi juga sebagai tokoh dalam novel tersebut. Dia tahu benar tentang apa yang ditulisnya dan paham betul bagaimana meramu cerita-cerita sejarah dengan imajinasinya untuk menggambarkan cerita tersebut sehingga pembaca ikut hanyut dalam suasana cerita. Para pendekar yang budiman tidak hanya mengandalkan ilmu silatnya, namun juga ilmu dakwahnya, sehingga para pendekar itu menyeimbangkan antara ilmu kanuragan dan kebatinannya. Ini menjadi sebuah pelajaran berharga bagi para pembaca bahwa melawan musuh tidak hanya sekedar untuk mengalahkannya, namun juga untuk membuatnya menjadi lebih baik (menyadarkannya).

Novel-novel karya Viddy menghadirkan suasana baru dalam khasanah sastra di Indonesia. Walaupun novel tersebut menghadirkan cerita sejarah perpolitikan masa kini, maupun sejarah kerajaan zaman “doeloe”, namun suasana kebaruan dan keislaman tetap terasa sehingga pembaca dapat hanyut dalam situasi yang dibangun oleh cerita tersebut. Karya-karya Viddy patut untuk diapresiasi oleh bangsa Indonesia dan rumpun Nusantara, guna mengungkap kelebihan dan kekurangannya. Kelebihan dan kekurangan ini yang nantinya akan menjadi pembelajaran bagi pembaca maupun penulisnya sendiri. Saya sendiri, kini sedang asyik membaca berulang-ulang novel Viddy yang mutakhir, yaitu “Misteri Gajah Mada Islam” tanpa rasa bosan.